juni tahun ini (2)

Masih di bulan Juni, kado luar biasa kembali kuterima dariNya. Kali ini berhubungan dengan si kecil Raya. Minggu 15 Juni lalu, Raya demam. Kukira cuma panas demam biasa, efek samping tumbuh gigi—di gusi bawah ada tanda-tanda akan tumbuh dua gigi—ternyata bukan.

Hari Senin, Raya masih ceria seperti biasa, tetap makan sesuai porsi sehari-hari. Selasa, Raya tampak lesu dan lemas, gak nafsu makan, gak banyak tingkah atau ngoceh seperti biasanya. Aku belum curiga kalau sakit si kecil serius.

Besok paginya, kutanyakan pada beberapa teman dan saudara yang punya anak seusia Raya, bagaimana tanda-tanda anak akan tumbuh gigi. Hari itu Raya semakin drop, nggak bisa bangun dari tempat tidur. Salah seorang dari mereka menyarankan periksa ke dokter. Siangnya kubawa Raya ke dokter terdekat.

Melihat gejala demam Raya, dokter merekomendasikan Raya dibawa ke Laboratorium untuk periksa darah. Tanpa pikir panjang, kami langsung meluncur ke lab klinik rujukan. Begitu hasilnya keluar, trombosit Raya dinyatakan turun. Dokter bilang, itu gejala demam berdarah stadium satu. Saat itu juga kami putuskan membawa Raya ke IGD RSU Samarinda. Setelah beberapa hari disana, baru ketahuan kalau si kecil terkena demam dengue, temannya demam berdarah. Bedanya, kalau DB trombosit dan leukosit sama-sama turun, dengue hanya trombositnya saja yang turun, leukosit naik.

Kami nggak nyangka si kecil bisa terkena penyakit mengerikan seperti itu. Selama ini kami terbiasa hidup bersih. Cuma lingkungan sekitar rumah kontrakan kami memang agak kurang sehat, depan belakang ada got, sirkulasi udara di dalam rumah juga nggak bagus.

Dugaanku, ini dampak dari kebanjiran kemarin, karena rumah sempat terendam semalam. Aku lupa melakukan fogging. Ini cobaan sekaligus pelajaran buat kami. Agaknya kami sekeluarga harus lebih ekstra lagi menjaga kebersihan lingkungan.

                            

juni tahun ini

Tak pernah saya bayangkan sebelumnya, juni tahun ini saya akan mendapat kado luar biasa. Siang itu, Kamis 5 Juni lalu, Samarinda diguyur hujan lebat. Suami saya sudah di kantor lagi setelah pulang ke rumah pada jam istirahat. Setelah beberapa menit, kok hujan tambah lebat, batin saya. rumah kontrakan saya bocor di sana-sini. Anak saya mulai rewel. Dengan menggendong si kecil, saya periksa seluruh ruangan. Begitu melongok kamar mandi, astaghfirullah, air selokan masuk. Posisi lantai rumah kontrakan saya memang lebih rendah dari jalan. Di pintu kamar mandi terdapat tembok pembatas setinggi lutut untuk mencegah air masuk ke dapur.

Saya mulai was-was. “Doain hujan cepat reda ya Yah,” sms saya ke suami.

Ternyata guyuran air Dari langit semakin menderas. Saya mulai panik, apalagi air di kamar mandi semakin meninggi. Saya harus menelpon suami agar segera pulang. celakanya, pulsa saya waktu itu habis.

Saya hendak ke konter terdekat waktu itu ketika melihat air mulai merembes melalui pintu di ruang tamu. Saya intip jalan melalui jendela. Ya Allah, di luar sudah banjir! Saya tambah panik, bingung, antara menyelamatkan barang-barang di rumah, beli pulsa, atau menidurkan si kecil yang semakin rewel (karena waktunya tidur siang).

Akhirnya saya nekat buka pintu depan, beli pulsa. Malang, begitu pintu terbuka, BROL! air berlomba-lomba masuk ke dalam rumah. Saya terpana, shock, pasrah, tak bisa berbuat apa-apa. beberapa anak kos yang ngontrak di sebelah mencoba membantu meletakkan kursi sofa bekas punya tetangga di depan pintu rumah, tapi sia-sia, air kotor + bau itu berhasil menerjangnya. Di tengah kepanikan, Mbak Ila, tetangga sebelah juga, lewat depan rumah. Tanpa sungkan2 lagi, saya minta tolong dia mengisikan pulsa.

Begitu pulsa masuk, saya langsung menelpon suami. Ternyata genangan air merata. Suami saya bercerita bahwa seluruh jalanan protokol Samarinda banjir. Untungnya suami saya bisa sampai rumah dengan selamat. Kebetulan jarak kantor suami dengan rumah bisa ditempuh 5-10menit saja.

Sesampainya suami di rumah, kami segera menyelamatkan apa pun yang bisa diselamatkan. Air di dalam rumah sudah setinggi sekitar 20 cm ketika hujan akhirnya reda. kami tidak mungkin membersihkan rumah hari itu juga, karena sudah sore. Kami sudah sama-sama lelah. Kini rumah kontrakan saya menjelma menjadi waduk. Air tidak bisa surut sendiri seperti di rumah para tetangga,. Kontrakan saya tidak punya saluran pembuangan selain dari kamar mandi. Sedangkan kamar mandi sendiri sudah menyerupai danau.

Menurut para tetangga, banjir kali ini memang parah. Mungkin karena semakin berkurangnya peresapan air tanah akibat banyaknya permukaan tanah yang tertutup aspal atau semen. Selain itu—masih menurut mereka—semakin banyaknya ruko yang berdiri dan sampah yang dibuang sembarangan di got-got, mengakibatkan air buangan susah mengalir dengan lancar.

Menjelang magrib, kami memutuskan menginap di penginapan terdekat. Rumah akan dibersihkan besok pagi.

Keesokan harinya, dibantu dua orang penduduk setempat, kami menguras air di dalam rumah secara manual. Kami tidak terpikir sama sekali untuk mencari mesin penyedot air. Seharian kami bersih-bersih. Itu pun belum bersih betul. Besoknya lagi saya pel rumah memakai disinfektan berbotol-botol. Saya tidak ingin bekas lumpur kecoklatan yang menempel di setiap sudut rumah mendatangkan penyakit nantinya.

Ffiuhh, akhirnya rumah kembali bersih. Saya pandangi setiap sudut. Datangnya musibah memang nggak pernah bisa diduga. Seumur hidup, baru kali ini saya mengalami kebanjiran. Tiba-tiba saya tersadar. Hanya banjir begini saja saya sudah mengeluh nggak karuan, bagaimana dengan orang lain yang terkena tsunami atau banjir banding lain? Ah, saya malu. Seharusnya saya bersyukur, apa yang saya alami nggak separah tsunami dan sejenisnya.

Sekarang, setiap kali hujan deras, meski trauma, saya betah-betahin bertahan di rumah ini sampai habis masa kontraknya, Agustus nanti. Alhamdulillah saya sudah menemukan kontrakan lain. InsyaAllah lebih nyaman dan bebas banjir.

tentang seorang kawan

Siang itu panas banget. Setumpuk naskah cerpen di depan mata saya—yang menunggu giliran untuk diseleksi—membuat suasana tambah gerah. Waktu itu saya masih mahasiswa semester tiga, ditugaskan menjadi sekretaris pelaksana sebuah lomba menulis oleh organisasi mahasiswa intra kampus yang saya masuki sejak semester satu, UKMP.

Sebuah naskah dengan penampilan lain dari yang lain (karna cuma naskah ini yang dilengkapi footnote, kayak Supernova gitu....) tiba-tiba tertangkap mata saya. Judulnya AWARD, anonim, karena nama penulisnya udah di tip-ex sama temen-temen. Jujur, awalnya saya ngeremehin, karna selama beberapa hari nyeleksi cerpen, semua pada ngebosenin, yang diangkat tetep itu-itu... aja!

Ogah-ogahan saya baca. Satu kata, satu kalimat, satu paragraf selesai... WOW, paragraf pembukanya te-o-pe be-ge-te abis! Bener kata para maestro cerpen, paragraf pertama tuh penentu. Saya terpikat, saya teruskan menelusuri kata demi kata, sampai halaman terakhir. Saya tarik napas panjang, bukan kekecewaan, tapi ekspresi sebuah kelegaan setelah terlibat dalam jalinan konflik cerpen AWARD. Saya nggak ragu menyisihkan cerpen itu ke tumpukan 30 besar yang bakal diserahkan ke juri tahap 2.

"Rek, Award iki karyae sopo se (Award ini karya siapa)?" tanyaku pada seorang kawan. Dia langsung mbuka daftar peserta lomba menulis cerpen dan puisi tentang lingkungan hidup tingkat mahasiswa se-Jawa Timur di tangannya.

"Rafiqa Qurrata A'yun." jawab teman saya singkat.

Dalam hati saya bertekad untuk 'nyari' yang namanya Rafiqa di malam penobatan pemenang, 5 Juni 2004 nanti. Semua peserta dapat undangan. Berhari-hari saya didera penasaran. Itulah awal persentuhan saya dengan fiqa. Sebelum kenal orangnya, saya kenalan dulu sama karyanya yang menurut saya amat sangat cerdas itu.

Kata pepatah Pucuk dicinta ulam tiba. Begini ceritanya. Siang itu....

"Mbak, permisi, saya Fiqa, yang ikut lomba cerpen." Sambil nerima uluran tangannya, saya masih nggak ngeh kalau cewek berjilbab hitam itu adalah si penulis Award yang saya cari.

"Mbaknya dari mana?" tanya saya mulai menginterogasi.

"UNIBRAW." Jawabnya. Lalu, tanpa diminta dia langsung berceloteh kalau semalam ditelpon panitia, disuruh ngambil undangan acara penobatan pemenang lomba cerpen puisi lingkungan hidup di resto Gama. Dia sempat tanya tentang ke-UKMP-an juga, apa saja kegiatan organisasi kepenulisan kampus yang (waktu itu) hampir dua tahun saya 'gauli' itu, so on. Setelah panjang lebar ngobrol, saya sodorkan selembar undangan + buku peserta.

"Tulis nama dan tanda tangan disini ya, Mbak," tunjuk saya. Selesai, dia langsung pergi.

Saya baca buku peserta tadi. Sadarlah saya, bahwa yang menemui saya barusan adalah RAFIQA QURRATA A'YUN!

Kesan pertama ketemu fiqa, orangnya cukup ramah, ngomong apa aja nyambung, 'n murah senyum. Apalagi setelah dekat, she's so nice person buat diajak ngalor ngidul, mulai bahas fiksi, film sampai politik.

Sejak sobatan sama fiqa, saya jadi ketularan apapun yang ditularkan dia, baik yang sengaja ditularin/gak sengaja (apa coba?). Kalau ada lomba apa, bedah buku atau bursa buku dimana, diskusi apa plus siapa penulis yang datang, kami selalu nggak lupa bertukar info. Agaknya kesamaan hobi, minat, visi dan misi hidup semakin mendekatkan kami.

Fiqa berhasil menyemayamkan virus 'iri' di hati saya, karna masih semuda itu dia sudah mengantongi banyak prestasi di bidang yang ia minati. Dia pernah menjadi reporter di Surabaya Post waktu masih SMP dan juara I lomba menulis cerpen majalah Kawanku ketika di SMA. Tulisannya, terutama cerpen, sudah mampir dimana-mana, mulai media cetak lokal sampai nasional. Nggak heran, karena hasil 'ketukan kibort komputer'nya selalu meninggalkan efek dahsyat plus mengagumkan. Suatu hari dia memberi saya sebuah bundel fotokopian berisi kumpulan cerpennya dari jaman baheula sampai jaman ’modern’. Saya senang sekali. Sampai sekarang bundel itu masih saya simpan.

Sekarang dia di Jakarta, dua tahun ini dia ’nguli tinta’ di Detik.com setelah sebelumnya diterima juga di Jawa Pos. Meski nggak pernah ketemu lagi, saya masih kontak dengannya meski jarang. Dia adalah salah satu dari seabrek teman saya yang luar biasa.

thx 4 evrything ya pik...

prihatin insiden Monas

Saya malu, sedih sekali menyaksikan peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh sebuah ormas berembel-embel Islam kepada sekelompok massa yang bernaung di bawah ormas ‘beraliran’ kebangsaan, pada Minggu 1 Juni kemarin di Monas. Bagi saya, peristiwa itu tidak hanya mencoreng Islam sebagai agama penuh cinta dan kasih sayang, tetapi juga mempertanyakan moral bangsa ini. Rekaman tragedi penyerangan itu yang ditayangkan di semua stasiun televisi, menggambarkan dengan jelas betapa brutalnya ormas Islam itu. Mereka memukuli semua yang ada di Monas—tak peduli apakah mereka wanita, anak-anak, atau manula—merusak semua properti yang ada, begitu membabi buta, persis seperti binatang, anarkis, tidak berperikemanusiaan sama sekali.

Apapun alasan di balik penyerangan itu, entah demi penyelamatan akidah dari aliran sesat atau apapun, saya tetap tidak setuju dengan tindakan sepihak mereka. Apakah tidak ada cara lain yang lebih beradab selain melakukan kekerasan? Dimana otak mereka? Kenapa tidak menggunakan otak itu untuk berpikir lebih arif dan bijak?

Di mata saya, mereka seperti orang-orang yang tak punya akal dan hati. Bukan sekali ini mereka bertindak main hakim sendiri, sudah berkali-kali. Pengrusakan seolah sudah menjadi makanan wajib mereka. Benar-benar destroyer.

Saya tidak habis pikir, dimana mereka menempatkan Allah dan Islam saat mereka bertindak buas seperti itu? Islam itu damai, rahmatan lil alamin, Islam itu cinta, tidak pernah mengajarkan kesemena-menaan, kekerasan, dan hal-hal keji lainnya kepada penganutnya.

Saya kecewa sekali. Kalau sudah begitu, bukan aliran sesat yang mereka tuduhkan itu yang menodai agama, justru merekalah yang menodai agama dengan tingkah polah mereka yang sadis itu.

Jika alasan mereka karena polisi tidak mampu mengatasi kemaksiatan yang terjadi di negara ini, janganlah lantas bertindak seenaknya seperti itu.

Ada aturan, ada banyak cara, ada etikanya. Kenapa mereka tidak melakukan mediasi baik-baik saja dulu dengan pihak-pihak yang berseberangan dengan prinsip mereka, duduk semeja dengan kepala dingin, lalu memecahkan masalah yang ada bersama-sama. Begitu lebih terhormat, daripada langsung beraksi di depan umum mempertontonkan kebiadaban seperti itu.

Belum tuntas insiden Monas, pelaku-pelakunya juga belum lagi ditetapkan, terjadi lagi aksi serupa di Jogja. MasyaAllah, sedikitnya lima orang yang tak tahu apa-apa dianiaya sampai luka parah. Itulah akibatnya kalau otot lebih dikedepankan daripada otak, salah sasaran.

Setelah itu, tanpa malu-malu mereka membela diri, mengumbar penyangkalan di sejumlah stasiun televisi, bahwa apa yang mereka lakukan benar: jihad fi sabilillah. Aksi damai yang dimotori oleh ormas kebangsaan di Monas kemarin—menurut mereka—tidak benar adanya, karena mereka mendapati seorang pengikut ormas tersebut membawa senjata api. Lalu mereka juga menyangkal telah melukai wanita dan anak-anak pada insiden Monas kemarin. Itulah ciri khas mereka: sombong, tidak mau disalahkan, merasa paling benar. Padahal tak ada yang berhak menyombongkan diri selain Allah SWT.

Oke, visi misi mereka sesuai syariat, tapi cara-cara yang mereka tempuh sama sekali tak pernah syar’i, jauh dari syar’i. Mereka sering melanggar HAM, menginjak-injak harkat kemanusiaan mereka sendiri. Mereka selalu mempertontonkan keberingasan menyerupai sifat-sifat setan.

Apapun alasannya, dan siapapun yang terbukti bersalah dalam insiden Monas, Jogja, dan insiden-insiden lain, polisi harus berani menindak tegas pelaku anarkisme serta pelanggaran HAM sesuai dengan hukum yang berlaku.

Ya Allah, tuntunlah mereka semua kembali ke jalan-Mu, jalan yang penuh kebenaran, cinta, dan kedamaian. Amin…

Duapuluhempat tahun mengeja. Duapuluhempat tahun tlah terbaca. Langkah ini belum berhenti. Tertatih menantang keluh. Mimpi itu masih jauh. Jangan enggan memburunya dengan peluh. Jangan segan selalu ingatkan waktu.

29052008

Vibi

Cerpen: RF.Dhonna

Kupandangi Vibi dari jauh. Penampilannya masih tetap sama dengan setahun yang lalu, ketika pertama kali dia menemaniku jalan-jalan bersama Rino, cowokku, di suatu sore yang indah. Vibi memang cantik dan menyenangkan. Dia juga lincah. Tak heran jika Rino sangat menyayanginya.

“Perasaan sayang gue ke elo, sama seperti perasaan sayang gue ke Vibi,” kata Rino suatu hari.

Pernyataan ini jelas membuatku sedih, marah, dan cemburu. Bagaimanapun, aku nggak terima disamakan begitu saja dengan Vibi. Aku ceweknya, seharusnya aku berhak mendapatkan kasih sayangnya secara utuh. Tetapi akhirnya aku sadar, sebelum mengenalku, Rino sudah bersama Vibi. Vibi adalah separuh napasnya, aku tidak bisa memisahkan Rino Dari Vibi, begitu juga sebaliknya. Perlu waktu lama untuk memahami semua ini.

Satu hal yang aku suka dari Vibi, ia selalu ada ketika aku sedang membutuhkannya, sama seperti Rino. Inilah yang membuatku turut menyayanginya. Tetapi tak jarang juga Vibi membuatku uring-uringan. Bayangkan, malam Minggu yang seharusnya menjadi milikku dengan Rino, kadang-kadang dengan mudah direbutnya dariku. Dan ketika ku-sms, dengan santainya Rino akan mengatakan bahwa dia sedang ada di salon menemani Vibi treatment. Betapa beruntungnya Vibi. Aku saja nggak pernah diperlakukan seperti itu. Boro-boro mau nungguin, nganterin aja nggak. Pokoknya Rino anti untuk yang satu ini. Alasannya, tanpa ke salon pun aku sudah cantik. Gombal!

* * *

Permusuhan itu menyakitkan. Mungkin inilah yang dirasakan Vibi ketika aku melarang Rino untuk mengajaknya serta dalam pertemuan-pertemuan kami. Waktu itu aku mengultimatum Rino, “Jauhi Vibi, atau kita putus.”

Aku merasa Vibi telah mempermalukanku di depan teman-temanku pada pesta ulang tahun Reina yang mewah. Aku memang berusaha tetap jaga gengsi di hadapan mereka. Tetapi malam itu, Vibi telah mengacaukan semuanya. Sejak saat itu aku benar-benar membencinya.

* * *

“Mey, Vibi hilang!” adu Rino kemarin sore melalui telpon.

“Apa, Vibi hilang?” ulangku.

Seketika itu juga aku menemui Rino di tempat kami biasa bertemu. Kuhampiri Rino di bangku taman belakang sekolah. Wajahnya tampak murung. Aku menyesal telah mengacuhkan Vibi yang selama ini menjadi bagian kisahku dengan Rino. Aku ingat, pertemuan terakhirku dengan Vibi adalah sebulan yang lalu.

“Udah nyoba lapor polisi?” tanyaku pelan. Rino menggeleng lemah. Kelihatannya dia sangat terpukul dengan kejadian ini. “Rin, Vibi pasti kembali,” yakinku. Mudah-mudahan ini dapat sedikit menghiburnya. “Kita akan mencarinya bersama-sama,” lanjutku.

Rino mendesah, pandangannya lurus ke depan. “Makasih, Mey. Ternyata elo masih peduli sama Vibi,” ujarnya sambil beralih memandangku. Kubalas pandangannya dengan senyuman.

Perlahan daun-daun kering dari pohon flamboyan yang menaungi kami saat itu meluruh, mengotori sebuah bangku taman yang bagi kami sangat bersejarah, karena disinilah kali pertama kami menemukan nama ‘Vibi’ kemudian memberikannya untuk motor antik Rino, sebuah vespa butut.

Cerpen ini dimuat di Harian Surya, Minggu 21 November 2004

Dompet

Dompet

Cerpen: R.F.Dhonna

Titik-titik hujan mulai membasahi tubuh ringkih yang kedinginan itu. Sesekali ia terbatuk-batuk. Musim hujan kali ini membuat pemuda itu tersiksa oleh penyakit menahun yang dideritanya. Tiba-tiba ia teringat Suyatno. Mungkin ini karma, karena dulu ia sering menghardik Suyatno, rekannya sesama gelandangan.

“Heh, kuping gue bisa budeg kalau lu dikit-dikit batuk. Diam sebentar kek, Tokek aja bunyinya sejam sekali,” hardiknya ketika itu.

Di lingkungan pemulung dan gelandangan TPA Kedaeng, pemuda gondrong berusia 20-an itu terkenal dengan nama Gopal. Padahal kedua orangtuanya memberinya nama Abdul Gofar.

Rintik hujan menderas. Jentik-jentik penghisap darah mulai mewabah. Keadaan seperti ini masih untung daripada banjir air bah seperti tahun lalu. Ia berharap mimpi buruk yang membuatnya terusir itu tidak akan terulang lagi. Daerah ini memang aneh, kalau musim kemarau dilanda kekeringan, musim hujannya kebanjiran.

Gopal mengamati sekitarnya. Teman-temannya sudah terlelap beberapa jam yang lalu, sedangkan dirinya sendiri masih terjaga. Dipandanginya satu persatu wajah lelah mereka. Hatinya galau. Sesaat kemudian ia menengadah ke langit, mencoba mencari jawaban sekali lagi. Tetapi yang ia temukan hanya kekecewaan. Bintang-bintang tempatnya bertanya telah tertutup mendung tebal.

Kembali Gopal menimang-nimang dompet yang ditemukannya terselip di antara tumpukan-tumpukan sampah kering tadi siang. Dompet cokelat berisi ratusan ribu, kartu kredit, dan KTP ini bisa membawa keberuntungan, bisa juga membawa petaka. Gopal heran, mengapa ia tertarik membuka dompet itu. Padahal sebelumnya ia tak pernah seiseng ini. “Mungkin ini yang disebut karunia,” batin Gopal mengenang kata-kata Ustad Sholeh, guru ngajinya di kampung.

“Dompet ini tidak usah dikembalikan dulu, jangan-jangan kau dituduh mencuri. Di mata orang-orang kaya seperti orang ini, yang namanya gembel, tetap saja gembel. Bagi mereka tidak ada istilah gembel baik, semua gembel sama: menjijikkan!” nasihat Bang Jamin, pedagang ketoprak yang kerap kali muncul di kawasan Kedaeng. Cerita tentang dompet temuan ini memang hanya Bang Jamin yang ia beri tahu. Gopal mempercayainya karena ia mengenal baik siapa Bang Jamin.

Lelaki beranak satu itu digelari orator ulung oleh komunitas gelandangan Kedaeng. Wawasannya yang lebih luas dan kosakatanya yang lebih intelek ketika berbicara dibandingkan yang lain, mengundang decak kagum pada siapa saja yang mendengar pidatonya. Tak heran jika dalam beberapa aksi unjuk rasa, dia selalu didaulat menjadi koordinatornya.

“Untuk sementara waktu, ada baiknya dompet ini kau titipkan pada abang, biar lebih aman. Abang tidak akan mengambil atau meminta sepeser pun,” lanjut Bang Jamin meyakinkan.

Gopal mengggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sesekali gigitan nyamuk menghampirinya. Disingkapnya kain sarung sampai tengkuk untuk menghalau dingin dan gigitan serangga kecil yang menyebalkan itu. Dengan kening berkerut, Gopal merenung kembali. Ia mulai mempertimbangkan nasihat Bang Jamin. “Saat ini kejujuran sudah kurang dihargai,” kata-kata itu terngiang lagi di telinganya.

Sambil membaringkan tubuhnya, ia menyandarkan kepala pada kedua lengannya. Matanya yang mulai terasa berat dikerjap-kerjapkannya, sekedar mengajak berkompromi. Kemudian dipejamkannya sejenak, tapi sedetik kemudian dia bangkit lagi. Punggung tangannya mendapati cairan kental di lantai yang selama ini menjadi ranjangnya. Dalam gelap, dirabanya cairan itu lalu diendusnya perlahan, anyir! “Sialan!” makinya sambil mengibaskan tangan. Ia tidak menuduh, siapa yang meludah sembarangan di tempat tidurnya itu, karena akhir-akhir ini hampir semua temannya mengeluh sering demam diselingi batuk darah.

Tiba-tiba ia terkesiap, hatinya tergugah oleh naluri kemanusiaannya. Ya, Gopal ingin berbuat baik. Bukankah sebuah kemuliaan seandainya uang itu dipakai untuk berobat teman-temannya ke rumah sakit? Semua akan beres. Tapi ketakutan dengan cepat menyergapnya. Buru-buru niatnya itu diurungkannya. Kalau ia membawa temannya yang sebanyak itu kesana, petugas rumah sakit pasti akan curiga, darimana Gopal mendapat uang sebanyak itu? Ia tak dapat membayangkan kalau dirinya dijebloskan ke penjara semuda ini. Oh, tidak, tidak! Ditepiskannya bayangan itu. “Aku harus hidup sebagai manusia yang bebas, meskipun kehidupan sendiri tidak menganggapku sebagai manusia…,” tekadnya dalam hati.

Dari kejauhan kokok ayam mulai bersahutan, fajar hampir tiba. Sebentar lagi, hiruk pikuk

kota

akan menggilas idealisme dan harga diri seorang Gopal, seperti biasanya. Hari ini ia sudah memutuskan akan menuruti nasihat Bang Jamin.

* * *

Gopal mengingsutkan wajahnya yang sedang disorot kamera televisi. Bukannya malu, tapi ia benar-benar tidak mengerti, kenapa tiba-tiba datang segerombolan polisi yang menggerebek kemudian menginterogasinya seperti seorang pesakitan. Padahal kemarin Bang Jamin memintanya untuk tidak pergi jauh-jauh karena ada sebuah stasiun televisi yang akan memprofilkan kehidupannya, agar setelah melihat tayangan itu para dermawan berbondong-bondong bersimpati padanya, hanya itu.

Gopal dihardik habis-habisan oleh polisi-polisi itu, dipaksa mengakui kalau ia telah mencopet dompet orang. Merasa tak melakukannya, Gopal membantah tuduhan itu dengan tegas. Ternyata bantahan itu membuahkan bentakan bertubi-tubi yang semakin memekakkan telinganya.

“Sejak awal saya sudah curiga, Pak Polisi. Karena tidak mungkin dia mendapat uang sebanyak itu. Setelah saya desak, dia mengakui kalau uang itu hasil mencopet,” tanpa perasaan bersalah Bang Jamin membeberkan kesaksian palsunya yang meyudutkan Gopal. Mendengar omong kosong itu, gigi Gopal bergemeretak keras. Celakanya, polisi menangkapnya sebagai perlawanan. Tak pelak, sebuah tendangan menghampiri perutnya yang belum terisi sejak pagi.

“Soya tidak tahu kalau dompet saya dicopet. Tahu-tahu waktu di depan loket pembayaran, dompet saya sudah hilang…,” ungkap pemilik dompet ketika ditanya wartawan. “Untung bapak penjuak ketoprak ini segera menghubungi saya. Kalau tidak,  tahun depan saya tidak bisa berangkat haji,” tambah sang pemilik.

Merasa dipuji, hidung lelaki tambun itu kembang kempis. “Saya cuma berpesan, hati-hati kalau membawa uang. Sekarang banyak copet yang berlagak seperti pengemis,” lanjut lelaki empat puluh tahun itu sok bijak.

“Dasar penjilat!” maki Gopal dalam hati sambil menatap tajam sosok licik di hadapannya. Tapi ia tidak bisa berlama-lama memperlihatkan kebenciannya, karena sejurus kemudian polisi menyeretnya paksa menuju mobil patroli dengan tangan terborgol.

Sepeninggal Gopal, Bang Jamin kelihatan lebih sumringah, “Sudah wajah masuk tipi, dapet dua ratus ribu lagi, makmur dah…,” ujarnya bahagia. Lelaki itu baru saja membuktikan bahwa gembel tetaplah gembel….

* * *

Cerpen ini dimuat di Deteksi Jawa Pos edisi Senin, 2 Februari 2004

Ulang Tahun Anggi

Cerpen: RF.Dhonna

Anggi memandangi kebun bunga di belakang rumahnya. Hmm, cukup luas juga. Pasti asyik kalau ulang tahunnya nanti dirayakan di sini, seperti usul Tity, teman dekatnya.

“Nggi, daripada kamu pusing mikirin acara kayak apa yang cocok buat ultah kamu, mending nyontek Inge deh, pesta kebun,” usul Tity tadi siang di sekolah.

“Hah, nyontek pestanya Inge? Mending aku nggak ngadain pesta sekalian,” jawab Anggi ketus. Dia nggak mau nyontek pesta rivalnya sebulan yang lalu.

“Waktunya mepet non, tiga hari lagi!” kata cewek berpipi tembem itu semangat.

“Ah, kamu nggak ngerti sih.”

“Kenapa, Aksan? Dengerin ya, kalau Aksan emang suka sama kamu, dia pasti bakal milih kamu daripada Inge.”

“Jangan sok tahu, ah,” timpal Anggi. Kini ia telah berubah pikiran, segudang rencana telah tersusun rapi di kepalanya.

* * *

“Mami..!” Anggi menyapa Maminya yang baru datang dari kantor. “Capek ya, Mi?” tanya Anggi basa-basi. Ada maunya sih…“Mami tahu nggak, tiga hari lagi ada apa?” pancingnya sambil mengambilkan air putih buat sang Mami.

“Memangnya ada apa?” ditanyain balik gitu, kontan si Anggi jadi gondok.

“Masa’ nggak inget sama ultah anak sendiri?!”

“Oh, maaf, sayang. Mami benar-benar lupa.” Keduanya terdiam sejenak. “Nggi, jangan ngambek gitu dong. Oke, kamu minta apa? Pasti mami penuhi.”

“Bener, Mi?!” Maminya mengangguk mengiyakan. Sontak wajah Anggi berubah ceria. “Mi, Anggi boleh nggak, ngerayain pesta di kebun belakang?” tanya Anggi hati-hati. Jantungnya berdebar-debar melihat reaksi wajah Mami yang langsung berubah.

“Kalau untuk yang satu ini, mami nggak akan ngasih ijin.” Dierr! Anggi kecewa seketika. “Mami nggak mau bunga-bunga kesayangan mami mati terinjak-injak. Mami sudah capek menata kebun itu… bla… bla… bla… .”

“Ah, mami nggak asyik!” Anggi berlari ke kamarnya. Dibantingnya pintu keras-keras. Anggi sesenggukan. Dia sedih membayangkan ultahnya batal. Dia juga takut dengan cemoohan teman-temannya.

“Nggi, dengar dulu. Kalau selain itu, mami setuju. Buka dong, sayang.. ,” rayunya di depan pintu kamar putrinya.

“Nggak mau!” tukas Anggi ketus. Rupanya dia benar-benar marah.

* * *

Hari ini Anggi menghindar dari teman-temannya di kelas. Begitu bel istirahat berbunyi, dia langsung ngabur ke warung bakso Mang Akri. Ternyata di sana sudah ada Tity. Anggi buru-buru memutar haluan, tapi…

“Nggi, sini!” yah, ketangkap basah deh. “Gimana, jadi kan pesta kebunnya?”

“Nggak,” jawab Anggi lesu.

“Yah, batal makan enak dong.”

“Dasar gilingan! Pantesan pipimu tembem, makanan aja sih yang diurusin!”

“Ye.. gitu aja panas. Nih, minum jus dulu biar adem.”

Anggi menyeruput jus jeruk Tity yang tinggal setengah gelas.

“Aku lagi marahan nih, sama Mami.”

“So, apa yang bisa aku bantu?”

“Gini, gimana caranya supaya Mami nyesel nggak nurutin permintaanku?”

Kening Tity berkerut mencari ide. “Hmm.. mogok makan aja.”

“Heh, kalo ngasih saran yang masuk akal dong. Emang kamu nggak nangis, liat aku mati kelaparan?!” Tity tertawa ngikik.

“Kalau… nggak pulang sementara, gimana?”

“Boleh juga. Tapi kemana?”

“Yang pasti jangan ke rumahku. Kamu mau nongkrong di emperan kek, ngumpet di kolong jembatan kek, terserah.”

Setelah berpikir sebentar, lagi-lagi akhirnya Anggi setuju dengan usul sahabatnya itu.

* * *

Anggi berjalan menyusuri pinggiran pasar yang mulai sepi. Badannya serasa terpanggang oleh sengatan matahari. Sepulang sekolah, biasanya dia langsung membuka kulkas di ruang makan, duduk di ruang tv yang ber-AC. Tapi hari ini, Anggi harus rela wajahnya yang putih berubah menjadi merah kehitaman, serasa hampir gosong! Kerongkongan Anggi mulai terasa kering, perutnya pun sudah sejak tadi dangdutan. Dihampirinya seorang pedagang es kelapa muda yang mangkal tak jauh dari tempatnya berdiri. Anggi agak jijik juga sih sebenarnya. Dia nggak terbiasa jajan di kaki lima. Tapi terpaksa, nggak ada pilihan lain. Lalu, seperti orang nggak makan sebulan, Anggi meneguk rakus es kelapa muda yang disodorkan abang penjual es itu. Tiba-tiba seorang pengamen kecil menghampirinya, lalu bernyanyi dengan suara seadanya. Diiringi gitar sederhana yang sudah tua, pengamen itu menyanyikan lagu Ayah dengan penghayatan penuh. Anggi jadi trenyuh. Pemilik suara itu adalah seorang gadis kecil berambut panjang, kira-kira usianya empat tahun. Bajunya yang lusuh dan compang-camping, membuatnya tampak tak terawat.

“Adik, sini!” Panggil Anggi ramah. anak itu langsung menghampirinya. “Suara kamu bagus loh,” puji Anggi tulus. Gadis kecil itu tersenyum malu-malu mendengar suaranya dipuji. “Nama adik siapa? Namaku, Anggi.”

“Nama saya Asih,” ujar anak kecil itu membalas perkenalan Anggi.

“Sudah lama jadi pengamen?” tanya Anggi.

“Sejak umur dua tahun, Kak.”

“Nggak sekolah?” cecar Anggi lagi.

Asih menggeleng.

“Lo, kenapa… nggak sekolah?” Kasihan Asih, sekecil ini sudah disuruh kerja, gumam Anggi dalam hati.

“Nenek Asih nggak punya uang, Kak. Orangtua Asih sudah meninggal waktu Asih berusia dua tahun.” Ya tuhan, gadis yatim piatu ini tampak tegar. Di tengah kegetiran hidupnya, ia tetap terlihat bahagia. Sepertinya dia bangga karena sudah bisa mandiri di usia dini, pikir Anggi. Dia jadi malu pada dirinya sendiri. Betapa selama ini ia sering menuntut orangtuanya tanpa melihat kesulitan mereka mencari nafkah. Dan satu lagi, Anggi kurang bersyukur dengan keadaannya. Sekarang dia perlu berterima kasih kepada Asih karena Anggi menjadi sadar akan kekeliruannya selama ini.

”Sekarang umur Asih berapa tahun?”

”Sebentar lagi empat.”

“Trus, ulang tahunnya kapan?”

“Satu minggu lagi.”

“Oh ya? Kalau begitu, mau nggak ngerayain bareng kakak? Nanti biayanya kakak tanggung semua,” tanpa sadar Anggi melontarkan kata-kata itu.

“Benar, Kak?” Anggi tersenyum mengangguk. “Kakak baik banget, terima kasih ya, Kak.”

Tiba-tiba hp Anggi berbunyi. “Hallo, Ty,” sapa Anggi genit.

“Nggi, kemana aja sih? Mama kamu nangis-nangis nyari kamu, tahu nggak?” Anggi cengengesan.

“Iya, ini juga aku mau pulang. Eh, aku udah nemu ide yang lebih seru. Aku mau ngerayain ultah di panti asuhan!” tegasnya.

“Hah, ide gitu kamu bilang seru? Apa asyiknya?”

“Sekali-sekali boleh kan, berbagi kebahagiaan dengan anak-anak panti.”

“Aduh, Nggi, kamu mimpi apa sih semalam?” kata Tity nggak percaya.

* * *

Malam ini Anggi bahagia, karena selain bisa merayakan ulang tahunnya sendiri, ia juga merayakan ulang tahun sahabat kecilnya, Asih. Bisa berbagi kebahagiaan dengan Asih adalah anugerah terindah. Meskipun pestanya tadi sederhana, tapi sangat meriah. Semua yang diundang hadir, dan yang istimewa, tentu saja kehadiran Aksan. Apalagi Aksan memberi kado paling besar untuknya. Penasaran, Anggi segera membukanya. Hup! Anggi membekap mulutnya. Aksan memberinya sebuah lukisan yang keren banget!

Segera ia membaca secarik kertas di pojok atas lukisan itu.

Selamat ulang tahun yang ke-12, tebarkan cinta kasih untuk sesama… Aksan

Rasanya Anggi sudah nggak sabar menunggu besok….

*cerpen ini dimuat di Majalah GIRLS no.20 edisi Mei 2008 dengan beberapa editan, diantaranya judul berubah menjadi "Anugerah Terindah"

Jelang Dua Puluh Empat Tahun Hidup Sebagai Perempuan

“Betapa enaknya terlahir sebagai laki-laki.” Itulah pendapat saya dulu (bahkan sampai sekarang pendapat itu terkadang masih sering terlintas di kepala saya). Dibanding makhluk bernama perempuan, selama ini laki-laki distereotipkan lebih ‘bebas’, lebih kuat, lebih berani, dan masih banyak lebih-lebih yang lain. Saya sempat iri dengan keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki laki-laki. Meskipun saya tak menampik bahwa perempuan pun punya banyak keistimewaan—diantaranya surga berada di telapak kaki ibu—tapi tetap saja, bagi saya laki-laki itu punya banyak kelebihan.

Ketika masih SD, saya heran dengan susunan kabinetnya Alm.Pak Harto. “Kok menteri perempuannya cuma menteri UPW doang?” Kalau nggak salah waktu itu pernah cuma Ibu Inten Suweno saja yang perempuan. Dalam benak kanak-kanak saya saat itu, saya berpikir, apakah perempuan nggak boleh jadi menteri?

Menginjak remaja, saya melihat fenomena tentang banyaknya kasus MBA (Merit by Accident) yang sering merugikan pihak perempuan. Waktu itu kesimpulan saya satu: enak banget ya jadi laki-laki, perjaka atau nggak perjaka orang lain nggak tahu (kecuali ada penyelidikan ‘investigasi’). Jadi enjoy aja kalau ingin gonta-ganti pasangan. Kalau perempuan? Begitu orang lihat perutnya membesar, bunting, berarti udah nggak perawan lagi. Itu sudah pasti.

Oh iya, dulu saya pernah berkhayal, seandainya saya laki-laki, saya akan keliling dunia pakai sepeda. Dalam bayangan saya, kalau saya laki-laki, berpetualang kemanapun aman, bebas, mudah dapat ijin dari orangtua dan tidak akan terlalu dikhawatirkan. Tidur dimanapun nantinya, nggak masalah. Dasar khayalan anak kecil nyeleneh! ;)

Entah dari mana mulanya, sejak kecil mentalitas saya sudah terbentuk untuk berusaha mengalahkan laki-laki, dalam hal apapun, saya merasa bahwa saya harus di depan laki-laki. Karena itulah ketika saya berhasil menjadi ketua kelas, atau merebut predikat rangking I di kelas—yang biasanya disandang murid laki-laki—misalnya, saya luar biasa bahagia, puas tak terkira.

Saya cenderung suka memakai celana (yang umumnya dipakai anak laki-laki) daripada memakai rok seperti lazimnya anak perempuan. Kalaupun sekali waktu saya memakai rok, itu karena dipaksa Ibu dengan banyak ancaman. Semasa remaja (sampai sekarang), saya juga nggak begitu suka dan malas berdandan. Buat saya cantik itu bukan polesan kosmetik, melainkan cerdas, sehat jasmani rohani, kuat, dan berani; itulah cantik. Meminjam definisi Lan Fang, cantik itu 3B: Brain, Brave (bukan Beauty), Behavior.

Saya cenderung suka memberontak. Aturan tak tertulis dalam keluarga besar saya (dari garis Ayah), jika seorang anak perempuan beranjak remaja (setara lulus SD), wajib memakai jilbab. Tapi saya tidak mengindahkan aturan itu. Saya nggak mau berjilbab karena terpaksa. Saya mau niat berjilbab saya karena Allah SWT, bukan karena yang lain. Tak heran jika diantara saudara-saudara perempuan saya, sayalah yang paling beda, baru berjilbab ketika SMA. Tidak hanya itu. Saya juga sempat ‘dikucilkan’ oleh keluarga besar saya (dari Ayah lagi, yang selama ini bercitra keluarga ‘santri’) karena aktivitas saya di dunia seni ‘sekuler’. Setelah tanpa sengaja menjuarai lomba menyanyi se-kecamatan, saya yang saat itu masih SD sering diundang manggung di berbagai acara. Sampai SMP, saya masih sering diminta menyanyi di berbagai tempat. Akibatnya, teror semakin sering saya terima dari mereka-mereka yang tidak menyukai aktivitas saya. “Suara itu termasuk aurat perempuan!” kata salah seorang ‘tetua’ di keluarga besar saya. Waktu itu saya cuek saja, jalan terus. Kedua orangtua saya nggak masalah, kenapa justru mereka yang ribut? Toh niat saya menyanyi hanya untuk menyalurkan hobi, melatih kepercayaan diri, menggali potensi, manambah pengalaman, bukan untuk yang lain. Tetapi akhirnya saya nyerah juga setelah mendapat tekanan dari sana-sini. Saya berhenti, dan saya frustasi. Untunglah tak berapa lama saya bisa bangkit dan semangat lagi.

Kata orang-orang di sekitar saya, saya ini juga tergolong nekatan. Waktu SMP, untuk pertama kalinya saya pulang ke rumah dari berlibur di

Surabaya

sendirian, bermodal nekat. Ketika SMA, saya pernah pulang dini hari dengan seorang saudara perempuan saya setelah nonton konser grup musik Padi yang saat itu datang ke Lumajang. Padahal jarak rumah saya ke tempat konser cukup jauh, juga susah angkot. Lalu saya pernah nekat minggat dari rumah gara-gara dimarahi Ayah, ngumpet beberapa hari di rumah salah satu om saya. Yang paling spektakuler adalah kenekatan saya melakukan ‘pembangkangan’ terhadap kehendak Ayah dalam memilihkan sekolah untuk saya selama tiga kali berturut-turut. Tapi kenekatan-kenekatan saya selama ini tetap berdasarkan pada banyak pertimbangan lho.

Saya terlahir sebagai perempuan dalam keluarga saya, sebagai sulung dari empat bersaudara dengan dua adik laki-laki dan satu perempuan. Dulu saya sering protes kepada orangtua, karena sehari-hari pekerjaan rumah saya lebih banyak dari adik laki-laki di bawah saya. Usia kami hanya terpaut dua tahun. Waktu itu kedua adik saya yang terakhir belum lahir. Sementara saya menyapu, mengepel, membantu Ibu di dapur, mencuci sekaligus menyeterika baju sendiri, adik dibebaskan bermain dengan teman-temannya sampai sore, padahal adik sudah waktunya mandiri.

“Kenapa saya terus?” teriak saya jengkel.

“Kamu perempuan,” kata Ayah.

Lalu kenapa adik saya yang laki-laki tidak diajarkan seperti itu juga? Apa salahnya laki-laki bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Lalu, bagaimana nanti kalau sudah beristri? Mau jadi Raja, yang apa-apa harus dilayani istri? Apa semua yang berbau domestik harus dikerjakan istri (:perempuan)? Apakah tujuan laki-laki mengawini perempuan cuma mau dijadikan pembantu? Ngapain kawin kalo gitu?! Cari aja PRT! Dasar laki-laki! Sungut saya dalam hati. Entahlah, saya juga heran, bisa-bisanya pemikiran saya waktu itu (yang masih SMP) sampai sejauh ini.

Untunglah saya dapat suami yang nggak pernah memperlakukan saya seperti pembantu. Saya tahu, pelayanan istri terhadap suami, sekecil apapun bentuknya—membuatkan kopi misalnya—bernilai pahala. Tapi bagi saya, membebankan semua pekerjaan domestik kepada istri adalah salah satu bentuk pelanggaran HAM, nggak manusiawi, menentang fitrah, karena para istri pun bisa lelah seperti para suami yang baru pulang kerja (istri juga manusia!). Karena ini, sempat terlintas pikiran ngaco plus iseng di kepala saya, kenapa ya, yang sering saya jumpai adalah buku-buku how to tentang kiat-kiat melayani suami? Kok nggak pernah saya jumpai judul ‘Tips Melayani Istri’? (just kidding…).

Di keluarga besar saya (dari garis Ayah), diantara anak-anak perempuan yang penurut kepada kedua orangtuanya, yang tak bebas menentukan pilihan, saya tumbuh menjadi anak perempuan yang suka ‘membangkang’. Tapi saya berani mempertanggungjawabkan ‘pembangkangan’ saya.

Saya gemas melihat saudara-saudara perempuan saya yang ‘iya’ saja ketika selepas SD dimasukkan pesantren, dipaksa masuk ke MTs dan sejenisnya, lalu ketika dewasa suami pun harus pilihan orangtua, bla bla bla… Saya tidak mau itu terjadi pada saya. Saya tidak mau jadi kerbau. Dan ‘pembangkangan’ pun dimulai.

Lulus SD, saya dijemput salah seorang anak pakdhe saya (dari garis Ayah). Saya dipaksa masuk MTs di Pasuruan, dekat rumahnya, seperti saudara-saudara saya yang lain yang dulu pernah ‘nyantri’ disana. Entah dapat keberanian dari mana, saya menolak. Saya lari dari rumah, sembunyi di rumah seorang budhe (dari garis Ibu). Saya mengancam nggak mau pulang kalau terus dipaksa masuk MTs. Akhirnya Ayah mengalah.

“Apa maumu?” tanya Ayah.

Lalu saya utarakan keinginan saya untuk menentukan sendiri saya akan sekolah dimana. SMPN I Tempeh menjadi pilihan saya. Waktu itu saya begitu yakin dengan pilihan saya, optimis bahwa pilihan saya benar. Walaupun sebagai konsekuensinya saya terancam tidak akan diberi uang saku yang memadai oleh Ayah dan beliau tidak bersedia mengantar-jemput saya ke sekolah, saya tidak gentar. Justru saya semakin tertantang untuk melakukan yang terbaik, membuktikan bahwa pilihan saya tidak salah. Tahun pertama, setiap hari saya mengayuh sepeda sejauh kurang lebih 7-8 kilo. Sekolah saya beda

kota

kecamatan dengan tempat tinggal saya. Mau naik angkot uang nggak cukup. Tahun kedua dan ketiga, kadang-kadang saja, karena sering dapat tumpangan teman, dan Alhamdulillah kadang bisa naik angkot.

Keyakinan saya berbuah manis. Saya lulus sebagai salah satu the best ten dari sekolah itu. Meski demikian, entah mengapa Ayah kembali melakukan pemaksaan kehendak pada saya. Kali ini saya tidak boleh sekolah di SMA pilihan saya tanpa alasan. Jelas saya menentang habis-habisan. Tanpa persetujuan Ayah, dengan hati pedih saya tetap mendaftar ke SMA Negeri 2 Lumajang. Selama tiga tahun hari-hari saya penuh perjuangan untuk meminta kepercayaan Ayah. Untunglah semangat juang itu tak pernah padam di hati saya.

Lulus SMA, saya berhasil masuk ke salah satu PTN di Malang tanpa tes (lewat jalur PMDK). Lagi-lagi Ayah menentang keinginan saya melanjutkan pendidikan. “Jurusan yang kamu pilih itu ndak bonafit, ndak ada prospeknya,” cela Ayah. Siapa bilang? kilah saya dalam hati. Ayah lihat ya, nanti. Akan kubuktikan! tekad saya.

Saat ini, meski belum sepenuhnya tekad itu terbukti, orangtua saya (terutama Ayah) akhirnya mau memberi kepercayaan pada saya untuk memutuskan sendiri apa pun yang saya inginkan. Saya bersyukur, karena sejak dulu inilah yang saya inginkan: diberi kepercayaan menjalani hidup berdasarkan keputusan-keputusan yang saya buat sendiri, bebas menentukan pilihan. Bagaimanapun, saya sendiri-lah yang tahu apa yang terbaik untuk hidup saya, karena saya yang menjalani, bukan orang lain.

Menjelang dua puluh empat tahun hidup sebagai perempuan, ternyata menjadi perempuan itu cukup menyenangkan, meski kadang melelahkan….

Tuhan, Apakah saya salah jika mempertanyakan kodrat? Apakah saya nyeleneh seandainya mendobrak batas-batas yang membelenggu kedua kaki saya? Apakah saya berdosa apabila menggugat takdir? Apakah saya terkutuk karena menuntut keadilan? Apakah saya gila karena menginginkan kesetaraan? ................................................................................