kupukupu bulan

bulan kitarilah kupukupuku

rasakan semerbaknya

kutunggu kau mengecup madu bunga itu

bulan kupukupu

pelangi gantikan langit muram

bulan menyembul di balik awan taman

angin membawa terbang bulan bersama kupukupu

aku melihat surga menggantung di atasnya

                            

membahas poligami

Siang itu, para guru laki-laki asyik ngobrol tentang sahur di bulan puasa. Sambil menikmati makan siang di kantor, entah bagaimana mulanya, tiba-tiba mengalirlah bahasan tentang poligami. Diam-diam aku menyimak pendapat mereka satu persatu. Rata-rata setuju, dan mereka kompak berpegangan pada sebuah ayat di Alquran yang menyatakan bahwa laki-laki boleh beristri lebih dari satu.

“Kalau saya, dari awal saya bilang ke istri, ini ada ayat yang mengatakan seperti ini. Nanti seandainya itu terjadi pada saya, kamu harus siap,” ucap seseorang diantaranya. Aku terhenyak, wah, indoktrinasi banget…

Nggak enak dengar obrolan yang sepertinya semakin “menyudutkan” perempuan itu, aku keluar ruangan. Kalau aku memaksa berdebat dengan mereka, aku pasti kalah. Selain karena satu kepala lawan banyak kepala, juga karena dalam hal pemahaman agama mereka semua lebih pinter. Jadi seandainya aku mendebat dengan ayat tertentu, mereka pasti berusaha mencari dalil-dalil lain yang sudah mereka hafal di luar kepala.

Dari dulu, aku nggak setuju sama yang namanya poligami, meskipun Islam membolehkan. Aku nggak akan mengijinkan suamiku melakukan itu. Entahlah. Mungkin karena selama ini yang kulihat poligami selalu membuat istri pertama menderita, istri kedua seperti bersenang-senang di atas penderitaan istri pertama, lalu si suami akan cenderung ke istri keduanya. Mungkin juga karena dari banyak kasus poligami yang ada, si istri kedua atau yang kesekian pasti lebih muda dan lebih cantik. Seribu satu yang istri keduanya janda atau lebih tua dari istri pertama. Lalu, tentang alasan para suami menikah lagi juga nggak ada yang benar-benar syar’i. Bahkan yang paling konyol, aku pernah mendengar alasan seorang suami punya istri empat (dan berencana tambah istri lagi) karena ingin kaya, ingin hartanya tambah berlimpah (istilah Jawanya sebagai pesugihan). Astagfirullah.., sebegitu hinakah-nya para perempuan, sehingga kesetiannya dijadikan tumbal kekayaan?

Kalau ada yang bilang, menikah lagi untuk menghindari dosa, fitnah, menguatkan dan menyelamatkan akidah, kenapa harus yang lebih muda dan cantik? Islam memang membolehkan poligami, tapi itu ada syaratnya, yaitu harus BISA ADIL. Aku paling benci kalau ada laki-laki yang ingin menikah lagi, lalu dengan sombongnya dia mengaku bisa berbuat adil (iya, adil buat dirinya sendiri, tapi nggak adil buat para istrinya). Sama diri sendiri saja kadang kita nggak bisa adil, apalagi sama orang lain? Dan kalau nggak bisa adil, justru dosa yang didapat, bukan menghindari dosa lagi. Bagiku, yang bisa adil memperlakukan para istrinya cuma Rasulullah. Selama ini belum pernah kutemui pribadi yang adil seperti beliau.

Mengutip pendapat penulis novel Ayat-ayat Cinta, Habiburrahman El-Syirazi, poligami itu rukhsah saja. Seperti sholat boleh duduk bagi orang sakit. Seperti sholat jama dan qashar bagi orang yang bepergian jauh. Asal syariatnya ya monogami. Artinya kalau dalam kondisi normal yang utama tetap monogami. Jika poligami mendatangkan mudharat, bukan manfaat, hukumnya bisa makruh, bahkan haram. Jadi tidak sembarangan. Namanya juga rukshah. Berbuat adillah, ia lebih dekat dengan taqwa, kata Allah dalam Al Quran. Dan monogami itu lebih adil, jadi lebih dekat pada taqwa.

Aku setuju dengan pendapat itu. Poligami memang tidak salah. Boleh, tapi dilakukan dengan syarat tertentu, karena suatu hal yang terjadi di luar yang biasa (normal). Poligami adalah rukshah, keringanan dari Allah.

Yah.. membahas poligami memang tak pernah ada habisnya. Selalu ada pro kontra yang muncul. Seperti siang itu, obrolan para bapak guru tentang poligami semakin seru…

BSE, Ribet!

tahun ajaran baru kemarin depdiknas gembar-gembor tentang buku gratis dalam bentuk e-book yang bisa di download di situs resminya. baru kemarin sempat ngintip n nyoba download buku sekolah elektronik (bse) bhs. indonesia kelas 7+8 buat ngajar di sekolah. ternyata prosesnya ribet abis. pertama harus daftar jd anggota, login, trus gak bisa download satu buku langsung, harus per bab. udah gitu kover bukunya juga pisah. download 1 bab aja lamaaaaanya minta ampun. dasar q orangnya gak sabaran, gondok deh...

pak bambang, tolong dong jgn dipersulit. kalo downloadnya ribet plus lama, sama aja bukan buku gratis dong pak, download 1 bab aja hampir sejam. 1x12 bab berapa jam tuh pak? padahal loading si lappy gak lambat-lambat amat. hitung deh pak, beli pulsa buat ngenetnya berapa? ;)

lha, buat yang gak bisa akses internet karena tinggal di daerah terpencil yg gak ada jaringan internet nya gmn? dibagi-bagiin langsung aja pak ke sekolah-sekolah dalam bentuk buku teks... gmn???

Perempuan yang berdiri di dekat mesin ATM

Beberapa bulan terakhir ini, ada sebuah pemandangan baru di dekat mesin atm mandiri dekat kontrakan yang sangat menarik perhatianku. Disitu tiap hari berdiri seorang perempuan berjilbab. Sambil menenteng sebuah tas yang berisi segepok amplop, ia berdiri seharian di tempat itu. Sebenarnya nggak cuma seorang sih. Beberapa temannya secara bergantian juga ‘mejeng’ dekat atm itu. Yang sering tuh, mbak-mbak yang agak hitam manis dan yang sering pake celana ketat. Ya, penampilan mereka cukup rapi dan modis.

Mereka bukan penjaga mesin atm, bukan pula petugas keamanan. Salah seorang dari ‘kawanan’ itu pernah ngobrol denganku. Dia mengaku utusan dari sebuah yayasan yatim piatu yang berkantor pusat di Balikpapan. Perempuan itu rela berdiri sambil berpanas-panas atau kehujanan karena satu tujuan: meminta sumbangan sekedarnya dari orang-orang yang baru keluar dari atm itu. Begitu ada orang yang turun dari kendaraan hendak masuk atm, ia mencegatnya sambil memberikan selembar amplop berlogo yayasan X tersebut. Dana yang terkumpul dari amplop-amplop sumbangan itu nantinya akan diberikan untuk anak-anak yatim piatu di bawah naungan yayasan X. Kreatif juga. Lebih kreatif lagi kalo yang ‘ditodongkan’ ke para pengunjung atm bukan amplop sumbangan, tapi hasil kerajinan tangan buatan anak-anak yatim piatu yang dijual dengan harga tertentu.

Tentang yayasan X, entah benar atau fiktif, yang jelas keberadaan perempuan itu sangat membuatku merasa kurang nyaman jika hendak mengambil uang di atm itu. Bukannya suudzon, tapi siapa yang tahu jika perempuan itu hendak berbuat jahat dengan cara merekam nomor pin nasabah pakai kamera tersembunyi atau lainnya? Modus kejahatan saat ini macam-macam dan semakin canggih. Aku yakin, tiap orang yang melihatnya pasti risih, mempunyai kecurigaan sendiri-sendiri, jangan-jangan dia begini-begitu…dll.

Miris juga sebenarnya, karena dia memakai atribut muslimah tapi ‘minta-minta’. Kesannya kok, gimanaaaaa gitu. Ya… positip thinking aja kali. Mudah-mudahan uang itu benar-benar disalurkan ke yang berhak….

tiga bulan pertama

Tiga bulan pertama menikah

Sehari setelah menikah, lelaki itu memboyong istrinya ke Jakarta. Pegawai negeri sipil seperti dia tidak bisa berlama-lama mengambil cuti. Di Jakarta, mereka tinggal di sepetak kamar berukuran tak lebih dari 3x4 meter, sebuah kamar kos-kosan di daerah stasiun Juanda-Gambir yang memang disewakan untuk para pekerja yang berkantor di sekitar kawasan itu.

Begitu turun dari kereta Gajayana, belum sempat merasakan indahnya bulan madu, lelaki itu pun langsung ngantor. Barulah ketika weekend tiba, ia bisa mengajak istrinya keliling kota, jalan-jalan ke Pekan Raya Jakarta, melihat keramaian di Pasar Baru, berkunjung ke Istiqlal, Monas, dan tempat-tempat lain yang belum pernah dikunjungi sang istri. Maklum, itulah pertama kali istrinya menginjakkan kaki di ibu kota.

Seminggu menikmati kebersamaan, sang istri harus meninggalkannya sendiri lagi di rimba Jakarta, untuk menyelesaikan studinya di sebuah universitas negeri di Malang. Skripsi sang istri yang baru berjalan 25% harus segera dirampungkan agar tak menjadi beban berkepanjangan. Demi tanggung jawab sang istri kepada kedua orangtuanya, lelaki itu rela sering hidup terpisah dengan pujaan hatinya itu. Selama beberapa waktu sang istri terpaksa harus bolak balik Jakarta-Malang. Lelaki itu mendukung penuh sang istri untuk segera merampungkan kuliah yang selama empat tahun ini ditempuhnya dengan penuh perjuangan. Kesepian demi kesepian menemaninya setiap malam tatkala sang istri tak berada di sisinya. Ketika istrinya mulai menyerah dengan keadaan, merasa pesimis lulus dalam waktu dekat, ia pun tak henti menyemangati. Ia tak ingin melihat istrinya gagal. Kata-kata seperti Konsen ke skripsi, jangan pikirkan aku; make me proud of you; u’re the best thing for me, love you, yang sering ia sms-kan ke sang istri, menjadi energi baru yang mampu membangkitkan kembali semangat wanita itu.

Lelaki itu rela mengalami masa-masa yang kurang menyenangkan ini sementara waktu. Toh, nanti kalau istrinya berhasil lulus empat tahun seperti yang ia harapkan, ia juga ikut lega. Saat itu mereka dituntut harus berkorban, demi masa depan yang lebih membahagiakan.

Perjuangan dan pengorbanan pasangan suami istri itu pun membuahkan hasil yang manis. Tiga bulan kemudian, sang istri lulus. Meski saat acara seremonial wisuda lelaki itu berhalangan hadir (karena pekerjaan), binar-binar kebanggaan di wajahnya tak dapat ia sembunyikan.

Ia bersyukur, doa-doanya selama ini dikabulkan olehNya. Setelah semua urusan di Malang selesai, istrinya kembali menyusulnya ke Jakarta. Mereka seatap lagi. Proses adaptasi sebagai pasangan suami istri yang sebenarnya pun baru terjadi. Mereka mulai saling mengenal pribadi masing-masing lebih jauh, berusaha menyelaraskan perbedaan-perbedaan yang ada, belajar memahami satu sama lain, serta saling melengkapi kekurangan dan kelebihan pasangan.

Semua terasa indah, apalagi saat Ramadan tiba. Inilah Ramadan pertama yang mereka lalui bersama. Saat-saat paling seru adalah ketika berburu makanan untuk berbuka dan sahur. Karena di kamar kos tak ada dapur, otomatis mereka harus hunting makanan di jalan setiap hari. Selain itu, tarawih setiap malam di masjid Istiqlal juga menjadi momen istimewa buat mereka berdua, karena sama-sama pengalaman pertama.

Idul Fitri tiba, mereka pun mudik ke kampong halaman. Lelaki itu hanya bisa sepuluh hari saja berada di tengah-tengah keluarga besarnya. Sedangkan sang istri memilih tinggal beberapa hari lagi.

“Sayang, aku telat datang bulan nih. Jangan2, dah isi…,” tulis sang istri d isms untuknya suatu pagi.

“Coba di tespek ya, mudah-mudahan isi,” balas lelaki itu. Ia memang sangat mengharapkan bisa dikaruniai momongan secepatnya.

“Positif..,” sms sang istri keesokan harinya.

“Alhamdulillah, akhirnya aku akan jadi ayah. Kita akan jadi orangtua, sayang! Tolong jaga diri baik-baik ya, makan bergizi, minum vitamin, istirahat cukup, jangan terlalu capek. Kita sudah dipercaya olehNya untuk memegang amanah ini. Jangan sia-siakan ya…,” balasnya bahagia.

“Tapi kan belum tentu hasil itu valid,” sms sang istri lagi.

“Ke dokter aja biar jelas. Jangan mikir biaya. Semahal apa pun, lakukan demi calon anak kita,” balas lelaki itu.

Setelah USG, dokter memastikan bahwa di rahim istrinya telah terlihat tanda-tanda kehamilan. Sang istri tampak tak terlalu bahagia dengan berita itu, karena merasa belum siap hamil. Lelaki itu pun meyakinkan sang istri, bahwa apa pun yang terjadi, itulah yang terbaik dariNya untuk kehidupan rumah tangga mereka. Demi kesehatan janin, lelaki itu melarang istrinya kembali ke Jakarta. Perjalanan dengan kereta selama 9—10 jam cukup rentan menyebabkan keguguran. Ia juga tak tega membiarkan istrinya dalam keadaan hamil tinggal di kamar sempit, pengap, dan panas seperti di kos-kosan. Sementara waktu sang istri menetap di kampung halaman, sampai datang kejelasan ia akan ditugaskan dimana, karena dalam waktu dekat ada penempatan kerja.

Begitulah, tiga bulan menikah, lelaki itu merasa mendapat dua karunia yang sangat indah: istrinya lulus S1 empat tahun, dan tak lama kemudian positif hamil.

Tiga bulan pertama hamil

Wanita itu mulai mual-mual, bahkan muntah. Makan apa pun rasanya tak enak, inginnya tidur sepanjang hari. Badan tak bisa diajak kompromi, lemas dan mudah capek. Wanita itu sedih, karena ‘penderitaan’ itu dialaminya sendirian tanpa dampingan suami. Mengetahui hal ini, sang suami jadi merasa bersalah. Lelaki itu ingin sekali pulang kampung, berada di samping sang istri, selalu ada jika istrinya membutuhkan kehadirannya. Apa daya, pekerjaan mengikatnya. Lelaki itu sering menangis dalam hening, sesak memikirkan kondisi istrinya yang kian memburuk.

“Jangan terlalu stres, Bunda, biar calon anak kita tumbuh sempurna fisik dan mentalnya. Teruslah usaha untuk tetap sehat. Ayah cinta Bunda. Bunda harus kuat, harus tegar. Ayah kenal Bunda sebagai sosok yang nggak mudah nyerah pada cobaan.

Ayah selalu berdoa buat Bunda. Maafin Ayah yang belum bisa ada kalo Bunda butuh sewaktu-waktu. Sabar ya, Bunda. Kita pasti bisa kumpul secepatnya.

Ayah sayang Bunda. Terlalu kecil perhatian Ayah dibandingkan pengorbanan Bunda.” Hanya sms-sms seperti inilah yang bisa ia kirimkan untuk menghibur dan meneguhkan hati sang istri.

Di saat suami-suami lain mungkin bisa mendampingi istrinya selama hamil, mencarikan makanan atau apa pun yang diinginkan istri ketika ngidam di awal-awal kehamilan, menyediakan buku-buku tentang kemilan dan persiapan-persiapan persalinan, dll., ia justru tak bisa. Hatinya pedih membayangkan ketakberdayaannya.

Di sisi lain, lelaki itu dilanda kecemasan menanti kabar dimana kelak ia dipindahtugaskan oleh pemerintah. Beberapa bulan menunggu, kabar mengejutkan itu tiba: ia ditempatkan di Ende-Flores, NTT! Lelaki itu tak menyangka ia akan ditugaskan jauh ke kota kecil di Indonesia timur itu.

Masalah baru muncul, mungkinkah ia membawa serta istrinya terbang ke Ende, sementara sang istri sedang hamil muda? Pertanyaan ini membuatnya tak bisa tenang selama berhari-hari. Setelah perdebatan panjang dengan keluarga, mempertimbangkan baik buruknya, sang istri pun setuju ikut ke Ende. Alhamdulillah, semua kekhawatiran yang sempat menghantui pikiran mereka masing-masing tak terjadi. Mereka berkumpul kembali sejak Februari 2007, merajut hari-hari sebagai keluarga baru yang mandiri.

Tiga bulan pertama setelah kelahiran si kecil

Malam itu, lelaki itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana proses kelahiran sang buah hati. Pikirannya diliputi ketegangan melampaui detik-detik ketika sang istri mempertaruhkan nyawa, berjuang dengan darah, demi menghadirkan sesosok jiwa ke dunia. Ia takjub, hingga tanpa sadar airmatanya menitik satu-satu tatkala proses itu berakhir. Sebuah peristiwa yang tak pernah terlintas di kepalanya.

Jauh-jauh hari, lelaki itu menyatakan tak bersedia menemani sang istri melahirkan, karena ia merasa takut dan tak siap. Mendekati hari-H, akhirnya ia memberanikan diri menyaksikan peristiwa itu, demi membantu kelancaran proses melahirkan. Ia sadar, keberadaannya nanti juga bisa mendatangkan spirit dan kekuatan ekstra bagi sang istri.

Begitu putrinya lahir, lelaki itu tak canggung membersihkan ari-ari si kecil yang mungkin tampak sangat menjijikkan, lalu menguburkannya di halaman rumah. Malam-malam setelah kehadiran si kecil, ia rela begadang menemani sang istri menyusui. Ketika si kecil terjaga di tengah malam karena popoknya basah—sementara sang istri tertidur karena kelelahan—ia pun sigap menggantinya dengan yang bersih. Hampir seluruh pekerjaan rumah dihandelnya. Ia sama sekali tak mengijinkan istrinya melakukan apapun sampai stamina sang istri benar-benar pulih.

Usia tujuh hari—setelah si kecil diakikahkan, rambutnya dicukur habis, serta diberi nama—lelaki itu turut membantu memandikan si kecil. Sementara sang istri memegang tubuh mungil si kecil, ia yang membasuhkan air ke seluruh tubuhnya. Ia sering membantu sang istri melakukan ritual sebelum memandikan si kecil di pagi hari, yaitu menjemur si kecil di loteng. Sinar matahari pagi sebelum jam delapan baik untuk kesehatan bayi.

Tiga bulan saja lelaki itu mengalami ‘kerepotan-kerepotan’ sebagai orangtua baru bersama sang istri, karena sewaktu usia si kecil menginjak empat bulan, kembali ia terpisah dengan keluarga kecilnya. Setelah mudik lebaran (waktu itu si kecil genap tiga bulan), lelaki itu akan dipindahtugaskan kembali ke kota lain. Daripada menyengsarakan si kecil karena harus bolak-balik naik pesawat, ia sepakat dengan sang istri untuk berkumpul kembali setelah SK penempatan kerja yang baru diumumkan. Kesabaran keluarga kecil itu kembali diuji. Awal 2008, SK itu diumumkan. Lelaki itu ditempatkan di Samarinda. Akhirnya sejak Februari 2008, ia bisa berkumpul kembali dengan istri dan buah hatinya.

Untuk suamiku yts ytc, yang super baik dan penuh pengertian, makasih atas hari-hari cinta yang kau persembahkan selama dua tahun ini. Met ultah pernikahan yang ke-2, mudah-mudahan Allah menjaga keutuhan keluarga kita, melindungi kita semua di bawah naungan ridhoNya, menyatukan kita selamanya di dunia, dan kelak mempertemukan kita kembali di kehidupan selanjutnya. Amiiiin….

juni tahun ini (2)

Masih di bulan Juni, kado luar biasa kembali kuterima dariNya. Kali ini berhubungan dengan si kecil Raya. Minggu 15 Juni lalu, Raya demam. Kukira cuma panas demam biasa, efek samping tumbuh gigi—di gusi bawah ada tanda-tanda akan tumbuh dua gigi—ternyata bukan.

Hari Senin, Raya masih ceria seperti biasa, tetap makan sesuai porsi sehari-hari. Selasa, Raya tampak lesu dan lemas, gak nafsu makan, gak banyak tingkah atau ngoceh seperti biasanya. Aku belum curiga kalau sakit si kecil serius.

Besok paginya, kutanyakan pada beberapa teman dan saudara yang punya anak seusia Raya, bagaimana tanda-tanda anak akan tumbuh gigi. Hari itu Raya semakin drop, nggak bisa bangun dari tempat tidur. Salah seorang dari mereka menyarankan periksa ke dokter. Siangnya kubawa Raya ke dokter terdekat.

Melihat gejala demam Raya, dokter merekomendasikan Raya dibawa ke Laboratorium untuk periksa darah. Tanpa pikir panjang, kami langsung meluncur ke lab klinik rujukan. Begitu hasilnya keluar, trombosit Raya dinyatakan turun. Dokter bilang, itu gejala demam berdarah stadium satu. Saat itu juga kami putuskan membawa Raya ke IGD RSU Samarinda. Setelah beberapa hari disana, baru ketahuan kalau si kecil terkena demam dengue, temannya demam berdarah. Bedanya, kalau DB trombosit dan leukosit sama-sama turun, dengue hanya trombositnya saja yang turun, leukosit naik.

Kami nggak nyangka si kecil bisa terkena penyakit mengerikan seperti itu. Selama ini kami terbiasa hidup bersih. Cuma lingkungan sekitar rumah kontrakan kami memang agak kurang sehat, depan belakang ada got, sirkulasi udara di dalam rumah juga nggak bagus.

Dugaanku, ini dampak dari kebanjiran kemarin, karena rumah sempat terendam semalam. Aku lupa melakukan fogging. Ini cobaan sekaligus pelajaran buat kami. Agaknya kami sekeluarga harus lebih ekstra lagi menjaga kebersihan lingkungan.

juni tahun ini

Tak pernah saya bayangkan sebelumnya, juni tahun ini saya akan mendapat kado luar biasa. Siang itu, Kamis 5 Juni lalu, Samarinda diguyur hujan lebat. Suami saya sudah di kantor lagi setelah pulang ke rumah pada jam istirahat. Setelah beberapa menit, kok hujan tambah lebat, batin saya. rumah kontrakan saya bocor di sana-sini. Anak saya mulai rewel. Dengan menggendong si kecil, saya periksa seluruh ruangan. Begitu melongok kamar mandi, astaghfirullah, air selokan masuk. Posisi lantai rumah kontrakan saya memang lebih rendah dari jalan. Di pintu kamar mandi terdapat tembok pembatas setinggi lutut untuk mencegah air masuk ke dapur.

Saya mulai was-was. “Doain hujan cepat reda ya Yah,” sms saya ke suami.

Ternyata guyuran air Dari langit semakin menderas. Saya mulai panik, apalagi air di kamar mandi semakin meninggi. Saya harus menelpon suami agar segera pulang. celakanya, pulsa saya waktu itu habis.

Saya hendak ke konter terdekat waktu itu ketika melihat air mulai merembes melalui pintu di ruang tamu. Saya intip jalan melalui jendela. Ya Allah, di luar sudah banjir! Saya tambah panik, bingung, antara menyelamatkan barang-barang di rumah, beli pulsa, atau menidurkan si kecil yang semakin rewel (karena waktunya tidur siang).

Akhirnya saya nekat buka pintu depan, beli pulsa. Malang, begitu pintu terbuka, BROL! air berlomba-lomba masuk ke dalam rumah. Saya terpana, shock, pasrah, tak bisa berbuat apa-apa. beberapa anak kos yang ngontrak di sebelah mencoba membantu meletakkan kursi sofa bekas punya tetangga di depan pintu rumah, tapi sia-sia, air kotor + bau itu berhasil menerjangnya. Di tengah kepanikan, Mbak Ila, tetangga sebelah juga, lewat depan rumah. Tanpa sungkan2 lagi, saya minta tolong dia mengisikan pulsa.

Begitu pulsa masuk, saya langsung menelpon suami. Ternyata genangan air merata. Suami saya bercerita bahwa seluruh jalanan protokol Samarinda banjir. Untungnya suami saya bisa sampai rumah dengan selamat. Kebetulan jarak kantor suami dengan rumah bisa ditempuh 5-10menit saja.

Sesampainya suami di rumah, kami segera menyelamatkan apa pun yang bisa diselamatkan. Air di dalam rumah sudah setinggi sekitar 20 cm ketika hujan akhirnya reda. kami tidak mungkin membersihkan rumah hari itu juga, karena sudah sore. Kami sudah sama-sama lelah. Kini rumah kontrakan saya menjelma menjadi waduk. Air tidak bisa surut sendiri seperti di rumah para tetangga,. Kontrakan saya tidak punya saluran pembuangan selain dari kamar mandi. Sedangkan kamar mandi sendiri sudah menyerupai danau.

Menurut para tetangga, banjir kali ini memang parah. Mungkin karena semakin berkurangnya peresapan air tanah akibat banyaknya permukaan tanah yang tertutup aspal atau semen. Selain itu—masih menurut mereka—semakin banyaknya ruko yang berdiri dan sampah yang dibuang sembarangan di got-got, mengakibatkan air buangan susah mengalir dengan lancar.

Menjelang magrib, kami memutuskan menginap di penginapan terdekat. Rumah akan dibersihkan besok pagi.

Keesokan harinya, dibantu dua orang penduduk setempat, kami menguras air di dalam rumah secara manual. Kami tidak terpikir sama sekali untuk mencari mesin penyedot air. Seharian kami bersih-bersih. Itu pun belum bersih betul. Besoknya lagi saya pel rumah memakai disinfektan berbotol-botol. Saya tidak ingin bekas lumpur kecoklatan yang menempel di setiap sudut rumah mendatangkan penyakit nantinya.

Ffiuhh, akhirnya rumah kembali bersih. Saya pandangi setiap sudut. Datangnya musibah memang nggak pernah bisa diduga. Seumur hidup, baru kali ini saya mengalami kebanjiran. Tiba-tiba saya tersadar. Hanya banjir begini saja saya sudah mengeluh nggak karuan, bagaimana dengan orang lain yang terkena tsunami atau banjir banding lain? Ah, saya malu. Seharusnya saya bersyukur, apa yang saya alami nggak separah tsunami dan sejenisnya.

Sekarang, setiap kali hujan deras, meski trauma, saya betah-betahin bertahan di rumah ini sampai habis masa kontraknya, Agustus nanti. Alhamdulillah saya sudah menemukan kontrakan lain. InsyaAllah lebih nyaman dan bebas banjir.

tentang seorang kawan

Siang itu panas banget. Setumpuk naskah cerpen di depan mata saya—yang menunggu giliran untuk diseleksi—membuat suasana tambah gerah. Waktu itu saya masih mahasiswa semester tiga, ditugaskan menjadi sekretaris pelaksana sebuah lomba menulis oleh organisasi mahasiswa intra kampus yang saya masuki sejak semester satu, UKMP.

Sebuah naskah dengan penampilan lain dari yang lain (karna cuma naskah ini yang dilengkapi footnote, kayak Supernova gitu....) tiba-tiba tertangkap mata saya. Judulnya AWARD, anonim, karena nama penulisnya udah di tip-ex sama temen-temen. Jujur, awalnya saya ngeremehin, karna selama beberapa hari nyeleksi cerpen, semua pada ngebosenin, yang diangkat tetep itu-itu... aja!

Ogah-ogahan saya baca. Satu kata, satu kalimat, satu paragraf selesai... WOW, paragraf pembukanya te-o-pe be-ge-te abis! Bener kata para maestro cerpen, paragraf pertama tuh penentu. Saya terpikat, saya teruskan menelusuri kata demi kata, sampai halaman terakhir. Saya tarik napas panjang, bukan kekecewaan, tapi ekspresi sebuah kelegaan setelah terlibat dalam jalinan konflik cerpen AWARD. Saya nggak ragu menyisihkan cerpen itu ke tumpukan 30 besar yang bakal diserahkan ke juri tahap 2.

"Rek, Award iki karyae sopo se (Award ini karya siapa)?" tanyaku pada seorang kawan. Dia langsung mbuka daftar peserta lomba menulis cerpen dan puisi tentang lingkungan hidup tingkat mahasiswa se-Jawa Timur di tangannya.

"Rafiqa Qurrata A'yun." jawab teman saya singkat.

Dalam hati saya bertekad untuk 'nyari' yang namanya Rafiqa di malam penobatan pemenang, 5 Juni 2004 nanti. Semua peserta dapat undangan. Berhari-hari saya didera penasaran. Itulah awal persentuhan saya dengan fiqa. Sebelum kenal orangnya, saya kenalan dulu sama karyanya yang menurut saya amat sangat cerdas itu.

Kata pepatah Pucuk dicinta ulam tiba. Begini ceritanya. Siang itu....

"Mbak, permisi, saya Fiqa, yang ikut lomba cerpen." Sambil nerima uluran tangannya, saya masih nggak ngeh kalau cewek berjilbab hitam itu adalah si penulis Award yang saya cari.

"Mbaknya dari mana?" tanya saya mulai menginterogasi.

"UNIBRAW." Jawabnya. Lalu, tanpa diminta dia langsung berceloteh kalau semalam ditelpon panitia, disuruh ngambil undangan acara penobatan pemenang lomba cerpen puisi lingkungan hidup di resto Gama. Dia sempat tanya tentang ke-UKMP-an juga, apa saja kegiatan organisasi kepenulisan kampus yang (waktu itu) hampir dua tahun saya 'gauli' itu, so on. Setelah panjang lebar ngobrol, saya sodorkan selembar undangan + buku peserta.

"Tulis nama dan tanda tangan disini ya, Mbak," tunjuk saya. Selesai, dia langsung pergi.

Saya baca buku peserta tadi. Sadarlah saya, bahwa yang menemui saya barusan adalah RAFIQA QURRATA A'YUN!

Kesan pertama ketemu fiqa, orangnya cukup ramah, ngomong apa aja nyambung, 'n murah senyum. Apalagi setelah dekat, she's so nice person buat diajak ngalor ngidul, mulai bahas fiksi, film sampai politik.

Sejak sobatan sama fiqa, saya jadi ketularan apapun yang ditularkan dia, baik yang sengaja ditularin/gak sengaja (apa coba?). Kalau ada lomba apa, bedah buku atau bursa buku dimana, diskusi apa plus siapa penulis yang datang, kami selalu nggak lupa bertukar info. Agaknya kesamaan hobi, minat, visi dan misi hidup semakin mendekatkan kami.

Fiqa berhasil menyemayamkan virus 'iri' di hati saya, karna masih semuda itu dia sudah mengantongi banyak prestasi di bidang yang ia minati. Dia pernah menjadi reporter di Surabaya Post waktu masih SMP dan juara I lomba menulis cerpen majalah Kawanku ketika di SMA. Tulisannya, terutama cerpen, sudah mampir dimana-mana, mulai media cetak lokal sampai nasional. Nggak heran, karena hasil 'ketukan kibort komputer'nya selalu meninggalkan efek dahsyat plus mengagumkan. Suatu hari dia memberi saya sebuah bundel fotokopian berisi kumpulan cerpennya dari jaman baheula sampai jaman ’modern’. Saya senang sekali. Sampai sekarang bundel itu masih saya simpan.

Sekarang dia di Jakarta, dua tahun ini dia ’nguli tinta’ di Detik.com setelah sebelumnya diterima juga di Jawa Pos. Meski nggak pernah ketemu lagi, saya masih kontak dengannya meski jarang. Dia adalah salah satu dari seabrek teman saya yang luar biasa.

thx 4 evrything ya pik...

prihatin insiden Monas

Saya malu, sedih sekali menyaksikan peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh sebuah ormas berembel-embel Islam kepada sekelompok massa yang bernaung di bawah ormas ‘beraliran’ kebangsaan, pada Minggu 1 Juni kemarin di Monas. Bagi saya, peristiwa itu tidak hanya mencoreng Islam sebagai agama penuh cinta dan kasih sayang, tetapi juga mempertanyakan moral bangsa ini. Rekaman tragedi penyerangan itu yang ditayangkan di semua stasiun televisi, menggambarkan dengan jelas betapa brutalnya ormas Islam itu. Mereka memukuli semua yang ada di Monas—tak peduli apakah mereka wanita, anak-anak, atau manula—merusak semua properti yang ada, begitu membabi buta, persis seperti binatang, anarkis, tidak berperikemanusiaan sama sekali.

Apapun alasan di balik penyerangan itu, entah demi penyelamatan akidah dari aliran sesat atau apapun, saya tetap tidak setuju dengan tindakan sepihak mereka. Apakah tidak ada cara lain yang lebih beradab selain melakukan kekerasan? Dimana otak mereka? Kenapa tidak menggunakan otak itu untuk berpikir lebih arif dan bijak?

Di mata saya, mereka seperti orang-orang yang tak punya akal dan hati. Bukan sekali ini mereka bertindak main hakim sendiri, sudah berkali-kali. Pengrusakan seolah sudah menjadi makanan wajib mereka. Benar-benar destroyer.

Saya tidak habis pikir, dimana mereka menempatkan Allah dan Islam saat mereka bertindak buas seperti itu? Islam itu damai, rahmatan lil alamin, Islam itu cinta, tidak pernah mengajarkan kesemena-menaan, kekerasan, dan hal-hal keji lainnya kepada penganutnya.

Saya kecewa sekali. Kalau sudah begitu, bukan aliran sesat yang mereka tuduhkan itu yang menodai agama, justru merekalah yang menodai agama dengan tingkah polah mereka yang sadis itu.

Jika alasan mereka karena polisi tidak mampu mengatasi kemaksiatan yang terjadi di negara ini, janganlah lantas bertindak seenaknya seperti itu.

Ada aturan, ada banyak cara, ada etikanya. Kenapa mereka tidak melakukan mediasi baik-baik saja dulu dengan pihak-pihak yang berseberangan dengan prinsip mereka, duduk semeja dengan kepala dingin, lalu memecahkan masalah yang ada bersama-sama. Begitu lebih terhormat, daripada langsung beraksi di depan umum mempertontonkan kebiadaban seperti itu.

Belum tuntas insiden Monas, pelaku-pelakunya juga belum lagi ditetapkan, terjadi lagi aksi serupa di Jogja. MasyaAllah, sedikitnya lima orang yang tak tahu apa-apa dianiaya sampai luka parah. Itulah akibatnya kalau otot lebih dikedepankan daripada otak, salah sasaran.

Setelah itu, tanpa malu-malu mereka membela diri, mengumbar penyangkalan di sejumlah stasiun televisi, bahwa apa yang mereka lakukan benar: jihad fi sabilillah. Aksi damai yang dimotori oleh ormas kebangsaan di Monas kemarin—menurut mereka—tidak benar adanya, karena mereka mendapati seorang pengikut ormas tersebut membawa senjata api. Lalu mereka juga menyangkal telah melukai wanita dan anak-anak pada insiden Monas kemarin. Itulah ciri khas mereka: sombong, tidak mau disalahkan, merasa paling benar. Padahal tak ada yang berhak menyombongkan diri selain Allah SWT.

Oke, visi misi mereka sesuai syariat, tapi cara-cara yang mereka tempuh sama sekali tak pernah syar’i, jauh dari syar’i. Mereka sering melanggar HAM, menginjak-injak harkat kemanusiaan mereka sendiri. Mereka selalu mempertontonkan keberingasan menyerupai sifat-sifat setan.

Apapun alasannya, dan siapapun yang terbukti bersalah dalam insiden Monas, Jogja, dan insiden-insiden lain, polisi harus berani menindak tegas pelaku anarkisme serta pelanggaran HAM sesuai dengan hukum yang berlaku.

Ya Allah, tuntunlah mereka semua kembali ke jalan-Mu, jalan yang penuh kebenaran, cinta, dan kedamaian. Amin…

Duapuluhempat tahun mengeja. Duapuluhempat tahun tlah terbaca. Langkah ini belum berhenti. Tertatih menantang keluh. Mimpi itu masih jauh. Jangan enggan memburunya dengan peluh. Jangan segan selalu ingatkan waktu.